Dusun Lima yang dikenal dengan nama Kampung Tole memiliki sejarah yang bermula dari kedatangan seorang perempuan asli Desa Peonea bernama Liti Tolibu. Pada masa mudanya, Liti Tolibu merantau meninggalkan kampung halamannya menuju Sulawesi Selatan. Di tempat perantauannya tersebut ia memeluk agama Islam dan menjadi seorang muallaf, kemudian mengganti namanya menjadi Faisya.
Di Sulawesi Selatan, Faisya menikah dengan seorang laki-laki bernama Andi Syarifuddin. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai lima orang anak. Setelah lebih dari 30 tahun merantau, pada bulan Oktober tahun 1998, Faisya bersama keluarganya kembali ke kampung halamannya di Desa Peonea. Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh keluarga dan masyarakat setempat dengan mengadakan acara penyambutan.
Setelah kembali menetap di Desa Peonea, Faisya dan keluarganya melihat bahwa wilayah tersebut memiliki potensi yang baik untuk bercocok tanam dan bertani, mengingat kehidupan mereka sebelumnya juga bergantung pada sektor pertanian. Oleh karena itu, pada awal Januari tahun 1999, Faisya bersama keluarganya diberikan lahan untuk bertani oleh Keluarga dan masyarakat setempat.
Wilayah tersebut kemudian dikenal dengan nama Tole. Nama Tole diambil dari nama sejenis tumbuhan yang hidup di sungai yang dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat tikar atau alas duduk.
Seiring berjalannya waktu, Faisya dan suaminya Andi Syarifuddin mulai membuka lahan pertanian dan menjalani kehidupan baru di wilayah tersebut. Karena memiliki keinginan untuk mengembangkan wilayah tersebut menjadi sebuah perkampungan, mereka kemudian mengundang keluarga dan kerabat dari Sulawesi Selatan untuk datang dan membuka lahan perkebunan.
Lama-kelamaan semakin banyak masyarakat yang datang dan menetap di wilayah tersebut karena kondisi tanah yang subur, terutama sangat cocok untuk budidaya tanaman kakao (cokelat) yang pada saat itu menjadi salah satu komoditas pertanian yang populer hingga sekarang.
Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, wilayah tersebut mulai berkembang menjadi sebuah perkampungan yang kemudian dikenal sebagai Kampung Tole.
Pada tahun 2001, masyarakat Kampung Tole secara swadaya bergotong royong membangun jalan dan jembatan untuk mempermudah akses menuju perkampungan. Pada awalnya jalan yang dibuat masih berupa jalan setapak.
Pada tahun 2003, sebagian masyarakat mulai merasakan hasil dari perkebunan yang mereka tanam sejak tahun 2001. Keberhasilan tersebut mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan wilayah tersebut.
Karena peran dan usahanya dalam mengajak masyarakat untuk membuka lahan perkebunan serta membangun perkampungan, Andi Syarifuddin kemudian dianggap sebagai tokoh masyarakat Kampung Tole pada saat itu.
Melihat perkembangan kampung yang semakin maju, Andi Syarifuddin berinisiatif mengajak masyarakat untuk mengumpulkan dana secara swadaya guna membangun jalan yang lebih baik dan permanen. Sistem pengumpulan dana dilakukan secara gotong royong, dimana masyarakat yang memiliki penghasilan lebih memberikan sumbangan yang lebih besar.
Melalui kerja sama dan semangat kebersamaan masyarakat, akhirnya pada tahun 2006 jalan menuju Kampung Tole berhasil dibangun secara permanen.
Selain pembangunan infrastruktur jalan, masyarakat Kampung Tole juga mulai membangun sarana ibadah. Perkembangan pembangunan masjid di Kampung Tole adalah sebagai berikut:
-
Tahun 1999 : Masyarakat membangun masjid darurat.
-
Tahun 2001 : Masjid direnovasi dengan lantai dan dinding papan.
-
Tahun 2003 : Masjid dipindahkan ke lokasi yang lebih baik di tengah kampung.
-
Tahun 2005 : Masjid kembali dipindahkan karena mengalami kesulitan sumber air.
-
Tahun 2008 : Masyarakat berhasil membangun masjid secara permanen.
Seiring berkembangnya wilayah dan bertambahnya jumlah penduduk, pada tahun 2008 Kampung Tole secara administratif ditetapkan sebagai satu RT di wilayah Desa Peonea.
Kemudian pada tahun 2010 dilakukan pengukuran tanah masyarakat sebagai bagian dari proses pengurusan sertifikat tanah.
Perkembangan wilayah Kampung Tole terus berlanjut hingga pada tahun 2012, pada masa pemerintahan Kepala Desa Peonea Bapak Krisman Sumba, wilayah tersebut secara resmi ditetapkan menjadi satu dusun yang diberi nama Dusun Lima (Tole).
Sejak saat itu, Dusun Lima Tole menjadi bagian dari wilayah administrasi Desa Peonea dan terus berkembang hingga sekarang.